Pemikiran politik Babeh Proklamasi


Biografi Ir. Soekarno

Ir. Soekarno (Lahir Di Blitar Pada 6 Juni 1901- Meninggal Pada Tanggal 21 Juni 1970 Di Kota Blitar,  Jawa Timur). Ayahnya Raden Sukemi Sosrohadihardjo, Adalah Seorang Priyayi Rendahan Yang Bekerja Sebagai Guru Sekolah Dasar. Ibunya Nyoman Rai Berdarah Biru Dari Bali Dan Beragama Hindu. Pertemuan Mereka Terjadi Ketika Raden Sukemi, Yang Sehabis Menyelesaikan Studi Di Sekolah Pendidikan Guru Pertama Di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Ditempatkan Di Sekolah Dasar Pribumi Di Singaraja, Bali.
Dalam Usia Kanak-Kanak, Soekarno Tinggal Dan Diasuh Oleh Kakeknya. Raden Hardjokromo Di Tulung Agung, Jawa Timur. Kakeknya Adalah Seorang Pedagang Batik, Yang Secara Tidak Langsung Membantu Penghidupan Dari Kedua Orang Tua Soekarno Yang Pada Waktu Itu Tidak Memiliki Penghasilan Yang Cukup Untuk Menghidupi Dirinya Dan Kakaknya. Kecintaan Soekarno Terhadap Wayang Kulit, Mulai Tumbuh Selama Tinggal Bersama Kakeknya. Ia Sering Kali Menonton Wayang Kulit Sampai Larut Malam. Kesenangannya Menonton Wayang Membuatnya Terkesan Dengan Tokoh Bima Dibandingkan Dengan Tokoh Lain.
Tokoh Bima Juga Memiliki Pengaruh Yang Besar Dalam Sikap Dan Pandangan Politiknya Kelak. Sikap Nonkooperasi Terhadap Musuh-Musuhnya, Kaum Imperialis Maupun Kaum Kapitalis, Serta Kesediaannya Dalam Waktu Bersamaan Berkompromi Dengan Sesama Rekan Perjuangannya Meskipun Berpeda Pandangan Praktis Dapat Dikatakan Berasal Dari Bima.
Di Tulung Agung, Ia Pertama Kali Masuk Sekolah. Tetapi Ia Kurang Mempergunakan Kesempatan Sebaik Mungkin Untuk Belajar. Hal Ini Disebabkan Ia Lebih Sering Melamun Tentang Kisah Perang Bharata Yudha. Namun, Sisi Keingintahuan Yang Besar Dan Minatnya Terhadap Pengetahuan Sudah Mulai Tumbuh Pada Saat Ini. Berkat Sifat Keingintahuan Yang Dimiliki Olehnya, Soekarno Memiliki Wawasan Yang Lebih Luas Daripada Teman-Teman Sebayanya.
Tidak Lama Kemudian, Setelah Kedua Orang Tuanya Pindah Ke Sidoarjo Dan Mendapat Jabatan Sebagai Kepala Eerste Klasse School Di Mojokerto. Di Sini, Kepandaiannya Mulai Terlihat Dengan Jelas. Mungkin Ini Disebabkan Oleh Profesi Ayahnya Yang Juga Seorang Guru Sehingga Dapat Mengawasi Kegiatan Belajar Mengajar Anaknya Secara Langsung. Kemudian, Raden Sukemi Memasukkan Soekarno Ke Europeesche Lagere School (E.L.S). Sekolah Tersebut Didirikan Guna Memenuhi Kebutuhan Anak-Anak Pekerja Di Pabrik Gula.
Selama Bersekolah Di Sini. Soekarno Merasakan Adanya Diskriminasi Yang Diberlakukan Kepada Kaumnya. Hanya Bumiputera Tertentu Yang Mendapatkan Kesempatan Untuk Mendapatkan Hak Istimewa Itu. Mereka Yang Bukan Anak Pejabat Hanya Bisa Masuk Ketika Ada Izin Khusus Dari Residen Dan Memenuhi Syarat-Syarat Tertentu. Sebelum Ia Menginjakkan Kaki Di Tempat Tersebut, Pada Tahun 1913, Soekarno Harus Mengorbankan Waktunya Untuk Memperdalam Bahasa Belanda Pada Juffrow M.P De La Riviera, Guru Bahasa Belanda Di ELS. Selama Bersekolah Di ELS Soekarno Juga Mengalami Cinta Pertama Kepada Seorang Gadis Belanda Yang Bernama, Rikameelhuysen. Tetapi, Hubungan Mereka Berdua Ditentang Oleh Ayah Sang Gadis Karena Melihat Kedudukan Soekarno Yang Hanya Merupakan Pribumi. Meskipun, Akhirnya Hubungan Itu Putus Dan Soekarno Dihina. Ia Tidak Marah Karena Menganggap Hal Itu Sudah Biasa.
Pribadi Soekarno, Selain Banyak Mendapatkan Pendidikan Di ELS. Ia Juga Mendapatkan Pendidikan Dari Ayahnya Dengan Keras, Penuh Disiplin, Tetapi Di Sisi Lain Mengajarkan Untuk Mencintai Makhluk Tak Berdaya. Sedangkan Dari Ibunya, Idayu, Ia Mendapatkan Pengaruh Mistik Dari Pemikiran Hindu Dan Sifat Yang Lemah Lembut Serta Kasih Sayang. Dari Pembantunya Sarinah, Sebagaimana Diungkapkan Oleh Soekarno Sendiri, Ia Memperoleh Pengaruh Kemanusiaan Dan Sikap Emansipasif. Ia Amat Terkesan Dan Mengagumi Sikap Perempuan Tersebut. Meskipun Ia Hanya Seorang Pembantu, Di Mata Soekarno Ia Adalah Perempuan Bijaksana Dan Berbudi Luhur.
Setelah Menyelesaikan ELS Di Mojokerto, Pada Tahun 1915, Sukarno Ingin Melanjutkan Pelajarannya Di Hogere Burger School (HBS). Agar Soekarno Diterima Sebagai Siswa HBS, Ayahnya Menggunakan Pengaruh Kawannya Untuk Memasukkan Ke Sekolah Tertinggi Yang Ada Di Jawa Timur Tersebut. Melalui Jasa Baik, H.O.S Tjokrominoto, Soekarno Akhirnya Diterima Di Sana. Bahkan Tokoh Gerakan Massa Nasionalis Islam Itu Memberikan Pondokan Di Kediamannya, Walaupun Ia Tidak Mendapatkan Kamar Yang Baik. Ia Menempati Sebuah Kamar Yang Gelap Tanpa Jendela Dan Daun Pintu. Sebagai Penerangan Lampu Pijar Yang Menyala Sepanjang Hari. Tetapi Ia Menerima Kenyataan Tersebut Tanpa Menggerutu. Karena Memang Tidak Ada Kamar Lagi Dan Hanya Itulah Satu-Satunya Kamar Yang Belum Terisi Dan Soekarno Menjadi Penghuninya. Tetapi Yang Penting Bagi Ayahnya Adalah Anaknya Dapat Tinggal Satu Atap Dengan “Raja Jawa” Yang Tak Bermahkota.
Alasan Dari Sukemi Untuk Menitipkan Soekarno Kepada Tjokrominoto Dijelaskan Oleh Soekarno Dalam Buku Biografinya Yang Ditulis Oleh Cindy Adams (1966), Sebagaimana Yang Diungkap Oleh Soekarno: “Tjokro Adalah Pemimpin Baik Dari Orang Jawa. Sungguhpun Engkau Akan Mendapat Pendidikan Belanda, Aku Tidak Ingin Darah Dagingku Menjadi Kebarat-Baratan. Karena Itu Kukirim Kepada Tjokro Orang Yang Dijuluki Belanda Sebagai Raja Jawa Yang Tidak Dinobatkan. Aku Tidak Ingin Melupakan, Bahwa Warisanmu Adalah Untuk Menjadi Karna Kedua.”
Selama Berada Di Surabaya, Soekarno Banyak Mendapatkan Pengaruh Pemikiran Barat Yang Modern. Perpisahan Dengan Orang Tua Dan Lingkungan Desanya Juga Memberikan Pengaruh Postitif Bagi Dirinya. Soekarno Berada Di Surabaya Selama Lima Tahun. Selama Itu Ia Tinggal Di Rumah Tjokrominoto. Di Tempat Itulah Pendidikan Politik Soekarno Dimulai Dengan Interaksi Dengan Berbagai Pemahaman Pemikiran Yang Ada Disana. Soekarno Juga Berkenalan Dengan Orang-Orang Beraliran Sosialis, Seperti Alimin, Muso, Dan Dharsono Yang Juga Mendapat Kedudukan Penting Dalam Kepengurusan Sarekat Islam Maupun Di Dalam Keanggotaan Indische School Democratische Vereeniging (ISDV).
Sebagai Remaja Yang Gelisah, Ia Menyalurkan Aspirasinya Melalui Suratkabar Milik Sarekat Islam, Oetoesan Hindia. Ia Menuangkan Pemikiran Dengan Nama Samaran ‘Bima”. Menurut Pengakuannya, Penggunaan Nama Samaran Itu Dimaksudkan Agar Ia Tidak Dimarahi Oleh Ayahnya. Sebab Ayahnya Akan Marah Apabila Mengetahui Anaknya Membahayakan Masa Depannya Sendiri. Memang Kata-Kata Yang Digunakan Soekarno Cukup Tajam Seperti “Hancurkan Segera Kapitalisme Yang Dibantu Oleh Budaknya, Imperialisme. Dengan Kekuatan Islam, Insya Allah Itu Segera Dilaksanakan.” Di Samping Itu, Soekarno Juga Aktif Dan Melibatkan Dirinya Dalam Organisasi Pemuda Tri Koro Darmo Cabang Surabaya, Yang Dibentuk Pada 1915 Sebagai Bagian Dari Organisasi Budi Oetomo. Kemudian Berganti Nama Menjadi Jong Java Pada 1918.
Setelah Menyelesaikan Pendidikannya Di HBS Pada 10 Juni 1921. Soekarno Beserta Istrinya, Siti Oetari Tjokrominoto, Puteri Tjokrominoto Yang Dinikahi Olehnya Pada 1920 Atau 1921, Meninggalkan Surabaya Menuju Bandung. Disana Ia Bersama Istrinya Berdiam Di Kediaman Haji Sanusi, Anggota Sarekat Islam Dan Juga Kawan Akrab Tjokrominoto. Di Tempat Itu Pula Soekarno Pertama Kali Bertemu Dengan Inggit Garnasih, Isteri Haji Sanusi. Kota Bandung Mempunyai Iklim Ideologis Yang Khas Jika Dibandingkan Dengan Kota-Kota Lain. Jika Sarekat Islam Berpusat Di Surabaya, Maka Semarang Dikenal Sebagai Pusat Pemikiran Marxisme. Kedua Kota Ini Saling Mempengaruhi Dan Saling Berebut Pengaruh.
Tetapi Bandung Justru Bandung Menampilkan Watak Yang Berlainan Dengan Kedua Kedua Kota Di Atas. Sebab Di Kota Bandung Telah Berkembang Sebuah Pemikiran Bahwa Tujuan Pergerakan Adalah Kemerdekaan Penuh Bagi Indonesia. Gagasan-Gagasan Ini Dikembangkan Oleh Para Pemimpin Indische Partij Yang Akhirnya Mempengaruhi Pemikiran-Pemikiran Selanjutnya. Akhirnya Kota Bandung Menampilkan Diri Sebagai Pusat Pemikiran Nasionalis Sekuler.
Di Kota Ini, Soekarno Berkenalan Dengan Tokoh-Tokoh Nasionalis Sekuler, Seperti, E.F.E Douwes Dekker, Dr. Tjipto Mangunkusumo Dan Ki Hajar Dewantara. Perkenalan Ini Telah Membawa Nuansa Baru Dalam Berpikir Soekarno. Seperti Halnya Dalam Pendekatan Yang Diperkenalkan Oleh Douwes Dekker Dalam Mendekati Situasi Hindia Belanda Dan Bagaimana Cara Mengubahnya Amat Menarik Perhatian Soekarno. Pemikiran Yang Diperkenalkan Tersebut Terlihat Berbeda Dari Pemikiran Sebelumnya Didapat Dari Tokoh-Tokoh Yang Ditemuinya.
Dengan Bertemunya Berbagai Tokoh Yang Memiliki Berbagai Aliran Pemikiran Tentunya Membuat Pikiran Soekarno Semakin Tersusun Secara Teratur. Di Samping Itu Kesaksiaannya Terlihat Di Depan Matanya. Soekarno Melihat Di Lingkungan Tjokrominoto Senantiasa Timbul Pertentangan Antara Golongan Kanan (Tjokrominoto) Dengan Golongan Kiri (Semaun-Darsono) Dalam Sentral Serikat Islam Yang Berkedudukan Di Surabaya. Pertikaian Yang Memuncak Tersebut Berakhir Dengan Terpecahnya Sarekat Islam Menjadi Dua Bagian, Yakni Sarekat Islam Putih Dan Merah. Sarekat Islam Merah, Akhirnya Merubah Dirinya Menjadi Sarekat Rakyat.
Jiwa Patriotisme Soekarno Tidak Hanya Dibentuk Melalui Figur Seorang Tjokrominoto. Sebagaimana Diungkapkan Oleh Bob Hering, Bahwa Adanya Interaksi Antara Soekarno Dan Para Pengikut Aliran Marxis Seperti Muso, Alimin, Dan Semaun. Juga Para Orang-Orang Sosialisme Radikal Belanda, Seperti Coos Hartogh, Henk Sneevliet, Dan Aser Baars. Memang Jika Penulis Pahami, Pengaruh Nasionalisme, Islam, Dan Marxisme-Sosialisme Sudah Memiliki Andil Yang Besar Pada Diri Soekarno Bahkan Pada Saat Dia Muda. Secara Jelas, Ini Dibentuk Dari Keberadaan Soekarno Yang Pada Mulanya Mendapatkan Pendidikan Politik Di Surabaya.
Pada Tahun 1926, Soekarno Mendirikan Algemene Studie Club Di Bandung. Organisasi Ini Merupakan Cikal Bakal Dari Partai Nasional Indonesia (PNI) Yang Didirikan Olehnya Pada Tahun 1927. Aktivitas Soekarno Di PNI Menyebabkan Dirinya Ditangkap Oleh Belanda Pada Bulan Desember 1929, Dan Memunculkan Pledoi Atau Pembelaannya Yang Fenomenal Dengan Judul Indonesia Menggugat, Hingga Dibebaskan Kembali Pada Tanggal 31 Desember 1931.
Pada Bulan Juli 1932, Soekarno Bergabung Dengan Partai Indonesia (Partindo), Yang Merupakan Pecahan Dari PNI. Akibatnya, Soekarno Kembali Ditangkap Pada Bulan Agustus 1933, Dan Diasingkan Ke Flores. Disini, Soekarno Hampir Hilang Dan Terlupakan Oleh Tokoh-Tokoh Nasional. Namun, Semangat Dan Api Perjuangan Yang Tidak Pernah Padam Senantiasa Membuat Soekarno Tetap Tegar Dalam Menghadapi Hambatan Dalam Perjuangan. Ini Terbukti Melalui Suratnya Kepada Seorang Guru Persatuan Islam Bernama Ahmad Hassan.
Selama Menjadi Presiden, Soekarno Banyak Memberikan Gagasan-Gagasan Di Dunia Internasional. Keprihatinannya Terhadap Nasib Bangsa Asia-Afrika, Masih Belum Merdeka, Belum Mempunyai Hak Untuk Menentukan Nasibnya Sendiri, Menyebabkan Presiden Soekarno, Pada Tahun 1955, Mengambil Inisiatif Untuk Mengadakan Konferensi Asia-Afrika Di Bandung Dan Menghasilkan Dasa Sila Bandung. Tujuan Dari KAA Adalah Untuk Menentang Tindakan Imperialisme Dan Kolonialisme Yang Terjadi Di Dunia Yang Notabenenya Banyak Dilakukan Oleh Negara-Negara Barat.
Setelah ‘Bercerai’ Dengan Mohammad Hatta, Pada Tahun 1955. Masa-Masa Kesuraman Pemerintahan Soekarno Sudah Mulai Tampak. Ditambah Dengan Keadaan Politik Dalam Negeri Yang Sudah Mulai Tidak Stabil Akibat Adanya Pemeberontakan Separatis Yang Terjadi Di Seluruh Plosok Indonesia. Dan Berpucak Pada Pemberontakkan G 30 S/ PKI, Membuat Soekarno Di Dalam Masa Jabatannya Tidak Bisa Memenuhi Cita-Cita Bangsa Indonesia Yang Makmur Dan Sejahtera. Akibat Selanjutnya, Soekarno Terpaksa Dicabut Masa Jabatannya Oleh MPRS Setelah Pidato Pertanggungjawabannya Ditolak.
Pemikiran Soekarno 
Pada tanggal 17 Mei 1956 Presiden Soekarno Mendapat Kehormatan Untuk Menyampaikan Pidato Di Depan Kongres Amerika Serikat Dalam Rangka Kunjungan Resminya Ke Negeri Tersebut. Sebagaimana Dilaporkan Dalam Halaman Pertama New York Times Pada Hari Berikutnya, Dalam Pidato Itu Dengan Gigih Soekarno Menyerang Kolonialisme. Perjuangan Dan Pengorbanan Yang Telah Kami Lakukan Demi Pembebasan Rakyat Kami Dari Belenggu Kolonialisme,” Kata Bung Karno, “Telah Berlangsung Dari Generasi Ke Generasi Selama Berabad-Abad.” Tetapi, Tambahnya, Perjuangan Itu Masih Belum Selesai. “Bagaimana Perjuangan Itu Bisa Dikatakan Selesai Jika Jutaan Manusia Di Asia Maupun Afrika Masih Berada Di Bawah Dominasi Kolonial, Masih Belum Bisa Menikmati kemerdekaan.
Menarik Untuk Disimak Bahwa Meskipun Pidato Itu Dengan Keras Menentang Kolonialisme Dan Imperialisme, Serta Cukup Kritis Terhadap Negara-Negara Barat, Ia Mendapat Sambutan Luar Biasa Di Amerika Serikat (AS). Namun, Lebih Menarik Lagi Karena Pidato Itu Menunjukkan Konsistensi Pemikiran Dan Sikap-Sikap Bung Karno. Sebagaimana Kita Tahu, Kuatnya Semangat Antikolonialisme Dalam Pidato Itu Bukanlah Merupakan Hal Baru Bagi Bung Karno. Bahkan Sejak Masa Mudanya, Terutama Pada Periode Tahun 1926-1933, Semangat Antikolonialisme Dan Anti-Imperialisme Itu Sudah Jelas Tampak. Bisa Dikatakan Bahwa Sikap Antikolonialisme Dan Anti-Imperialisme Soekarno Pada Tahun 1950-An Dan Selanjutnya Hanyalah Merupakan Kelanjutan Dari Pemikiran-Pemikiran Dia Waktu Muda.Tulisan Berikut Dimaksudkan Untuk Secara Singkat Melihat Pemikiran Soekarno Muda Dalam Menentang Kolonialisme Dan Imperialisme-Dan Selanjutnya Elitisme-Serta Bagaimana Relevansinya Untuk Sekarang.
Antikolonialisme Dan Anti-Imperialisme        
Salah Satu Tulisan Pokok Yang Biasanya Diacu Untuk Menunjukkan Sikap Dan Pemikiran Soekarno Dalam Menentang Kolonialisme Adalah Tulisannya Yang Terkenal Yang Berjudul Nasionalisme, Islam Dan Marxisme”. Dalam Tulisan Yang Aslinya Dimuat Secara Berseri Di Jurnal Indonesia Muda Tahun 1926 Itu, Sikap Antikolonialisme Tersebut Tampak Jelas Sekali. Menurut Soekarno, Yang Pertama-Tama Perlu Disadari Adalah Bahwa Alasan Utama Kenapa Para Kolonialis Eropa Datang Ke Asia Bukanlah Untuk Menjalankan Suatu Kewajiban Luhur Tertentu. Mereka Datang Terutama “Untuk Mengisi Perutnya Yang Keroncong Belaka.” Artinya, Motivasi Pokok Dari Kolonialisme Itu Adalah Ekonomi.
Sebagai Sistem Yang Motivasi Utamanya Adalah Ekonomi, Soekarno Percaya, Kolonialisme Erat Terkait Dengan Kapitalisme, Yakni Suatu Sistem Ekonomi Yang Dikelola Oleh Sekelompok Kecil Pemilik Modal Yang Tujuan Pokoknya Adalah Memaksimalisasi Keuntungan. Dalam Upaya Memaksimalisasi Keuntungan Itu, Kaum Kapitalis Tak Segan-Segan Untuk Mengeksploitasi Orang Lain. Melalui Kolonialisme Para Kapitalis Eropa Memeras Tenaga Dan Kekayaan Alam Rakyat Negeri-Negeri Terjajah Demi Keuntungan Mereka. Melalui Kolonialisme Inilah Di Asia Dan Afrika, Termasuk Indonesia, Kapitalisme Mendorong Terjadinya Apa Yang Ia Sebut Sebagai Exploitation De L’homme Par L’homme Atau Eksploitasi Manusia Oleh Manusia Lain.
Soekarno Menentang Kolonialisme Dan Kapitalisme Itu. Keduanya Melahirkan Struktur Masyarakat Yang Eksploitatif. Sebagai Suatu Sistem Yang Eksploitatif, Kapitalisme Itu Mendorong Imperialisme, Baik Imperialisme Politik Maupun Imperialisme Ekonomi. Tetapi Soekarno Muda Tak Ingin Menyamakan Begitu Saja Imperialisme Dengan Pemerintah Kolonial. Imperialisme.
Anti-Elitisme
Selain Kolonialisme Dan Imperialisme, Di Mata Soekarno Ada Tantangan Besar Lain Yang Tak Kalah Pentingnya Untuk Dilawan, Yakni Elitisme. Elitisme Mendorong Sekelompok Orang Merasa Diri Memiliki Status Sosial-Politik Yang Lebih Tinggi Daripada Orang-Orang Lain, Terutama Rakyat Kebanyakan.
Elitisme Ini Tak Kalah Bahayanya, Menurut Soekarno, Karena Melalui Sistem Feodal Yang Ada Ia Bisa Dipraktikkan Oleh Tokoh-Tokoh Pribumi Terhadap Rakyat Negeri Sendiri. Kalau Dibiarkan, Sikap Ini Tidak Hanya Bisa Memecah-Belah Masyarakat Terjajah, Tetapi Juga Memungkinkan Lestarinya Sistem Kolonial Maupun Sikap-Sikap Imperialis Yang Sedang Mau Dilawan Itu. Lebih Dari Itu, Elitisme Bisa Menjadi Penghambat Sikap-Sikap Demokratis Dalam Masyarakat Modern Yang Dicita-Citakan Bagi Indonesia Merdeka.
Soekarno Melihat Bahwa Kecenderungan Elitisme Itu Tercermin Kuat Dalam Struktur Bahasa Jawa Yang Dengan Pola “Kromo” Dan “Ngoko”-Nya Mendukung Adanya Stratifikasi Sosial Dalam Masyarakat. Untuk Menunjukkan Ketidaksetujuannya Atas Stratifikasi Demikian Itu, Dalam Rapat Tahunan Jong Java Di Surabaya Pada Bulan Februari 1921, Soekarno Berpidato Dalam Bahasa Jawa Ngoko, Dengan Akibat Bahwa Ia Menimbulkan Keributan Dan Ditegur Oleh Ketua Panitia. Upaya Soekarno Yang Jauh Lebih Besar Dalam Rangka Menentang Elitisme Dan Meninggikan Harkat Rakyat Kecil Di Dalam Proses Perjuangan Kemerdekaan Tentu Saja Adalah Pencetusan Gagasan Marhaenisme. Dalam Kaitan Dengan Usaha Mengatasi Elitisme Itu Ditegaskan Bahwa Marhaneisme “Menolak Tiap Tindak Borjuisme” Yang, Bagi Soekarno, Merupakan Sumber Dari Kepincangan Yang Ada Dalam Masyarakat. Ia Berpandangan Bahwa Orang Tidak Seharusnya Berpandangan Rendah Terhadap Rakyat. Sebagaimana Dikatakan Oleh Ruth Mcvey, Bagi Soekarno Rakyat Merupakan “Padanan Mesianik Dari Proletariat Dalam Pemikiran Marx,” Dalam Arti Bahwa Mereka Ini Merupakan “Kelompok Yang Sekarang Ini Lemah Dan Terampas Hak-Haknya, Tetapi Yang Nantinya, Ketika Digerakkan Dalam Gelora Revolusi, Akan Mampu Mengubah Dunia.”
Langkah-Langkah Apa Yang Diusulkan Oleh Soekarno Untuk Melawan Kolonialisme, Imperialisme Serta Elitisme Itu? Pertama-Tama Ia Mengusulkan Ditempuhnya Jalan Nonkooperasi. Bahkan Sejak Tahun 1923 Soekarno Sudah Mulai Mengambil Langkah Nonkooperasi Itu, Yakni Ketika Ia Sama Sekali Menolak Kerja Sama Dengan Pemerintah Kolonial. Dalam Kaitan Dengan Ini Ia Kembali Mengingatkan Bahwa Motivasi Utama Kolonialisme Oleh Orang Eropa Adalah Motivasi Ekonomi. Oleh Karena Itu Mereka Tak Akan Dengan Sukarela Melepaskan Koloninya.
Langkah Lain Yang Menurut Soekarno Perlu Segera Diambil Dalam Menentang Kolonialisme Dan Imperialisme Itu Adalah Menggalang Persatuan Di Antara Para Aktivis Pergerakan. Dalam Serial Tulisan Nasionalisme, Islam Dan Marxisme Ia Menyatakan Bahwa Sebagai Bagian Dari Upaya Melawan Penjajahan Itu Tiga Kelompok Utama Dalam Perjuangan Kemerdekaan Di Indonesia-Yakni Para Pejuang Nasionalis, Islam Dan Marxis-Hendaknya Bersatu. Dalam Persatuan Itu Nanti Mereka Akan Mampu Bekerja Sama Demi Terciptanya Kemerdekaan Indonesia. “Bahtera Yang Akan Membawa Kita Kepada Indonesia Merdeka,” Ingat Soekarno, “Adalah Bahtera Persatuan.”
Seruan-Seruan Soekarno Itu Pada Tanggal 4 Juli 1927 Dilanjutkan Dengan Pendirian Partai Nasional Indonesia (PNI) Yang Sebagai Tujuan Utamanya Dicanangkan Untuk “Mencapai Kemerdekaan Indonesia.” Guna Memberi Semangat Kepada Para Aktivis Pergerakan, Pada Tahun 1928 Ia Menulis Artikel Berjudul Jerit Kegemparan Di Mana Ia Menunjukkan Bahwa Sekarang Ini Pemerintah Kolonial Mulai Waswas Dengan Semakin Kuatnya Pergerakan Nasional Yang Mengancam Kekuasaannya. Ketika Pada Tanggal 29 Desember 1929 Soekarno Ditangkap Dan Pada Tanggal 29 Agustus 1930 Disidangkan Oleh Pemerintah Kolonial, Soekarno Justru Memanfaatkan Kesempatan Di Persidangan Itu. Dalam Pleidoinya Yang Terkenal Berjudul Indonesia Menggugat Dengan Tegas Ia Menyatakan Perlawanannya Terhadap Kolonialisme. Dan Tak Lama Setelah Dibebaskan Dari Penjara Pada Tanggal 31 Desember 1931 Ia Bergabung Dengan Partai Indonesia (Partindo), Yakni Partai Berhaluan Nonkooperasi Yang Dibentuk Pada Tahun 1931 Untuk Menggantikan PNI Yang Telah Dibubarkan Oleh Pemerintah Kolonial.
Hal Ini Tampak Misalnya Ketika Ia Mendirikan PNI. Di Satu Pihak Memang Dengan Jelas Digariskan Bahwa Tujuan Utama PNI Adalah Mencapai Indonesia Merdeka. Tetapi Di Lain Pihak Cita-Cita Kemerdekaan Itu Tidak Disertai Hasrat Untuk Mengubah Sistem Politik Yang Dilaksanakan Oleh Pemerintah Kolonial Dengan Sistem Politik Yang Sama Sekali Baru. Alih-Alih Perubahan Total, Soekarno-Sebagaimana Banyak Aktivis Pergerakan Waktu Itu-Berkeinginan Bahwa Negeri Yang Merdeka Itu Nanti Akan Ditopang Oleh Sistem Yang Mirip Dengan Sistem Yang Menopangnya Saat Terjajah. Hanya Elitenya Akan Diganti Dengan Elite Baru, Yakni Elite Pribumi.
Berhubungan Dengan Sikap Anti-Elitismenya Perlu Dilihat Bahwa Meskipun Dalam Pidato Dan Tulisan-Tulisannya Soekarno Tampak Melawan Elitisme, Tetapi Sebenarnya Bisa Diragukan Apakah Ia Sepenuhnya Demikian. Hal Ini Tampak Misalnya Dalam Pidato Yang Ia Sampaikan Pada Tanggal
26 November 1932 Di Yogyakarta, Kota Pusat Aristokrasi Jawa. Dalam Pidato Itu Soekarno Mengajak Setiap Orang, Apa Pun Status Sosialnya, Untuk Bersatu Demi Kemerdekaan. Tetapi Sekaligus Ia Menegaskan Bahwa Bersama Partindo Dirinya Tidak Menginginkan Perjuangan Kelas. Dalam Tulisan Nasionalisme, Islam Dan Marxisme, Sebagaimana Disinyalir Oleh Mcvey, Sebenarnya Soekarno Sama Sekali Tidak Sedang Bicara Dengan Rakyat Banyak. Dalam Tulisan Itu Ia, Menurut Mcvey, “Tidak Menyampaikan Imbauannya Kepada Kelompok-Kelompok Radikal Pedesaan Dan Proletar Yang Telah Memelopori Pemberontakan Komunis Setahun Sebelumnya, Atau Kepada Para Santri-Santri Taat Pejuang Islam, Atau Kepada Rakyat Kebanyakan Di Dalam Maupun Di Sekitar Wilayah Perkotaan Yang Bergabung Ke Dalam PNI Yang Didirikan Oleh Soekarno Saat Mereka Sedang Mencari Pegangan Di Tengah Lunturnya Nilai-Nilai Tradisional.” Soekarno, Sebaliknya, Lebih Mengalamatkan Imbauannya Kepada Sesama Kaum Elite Pergerakan, Atau Kepada Apa Yang Disebut Oleh Mcvey Sebagai “Elite Metropolitan,” Yang Keanggotaannya Biasanya Ditentukan Oleh Tingkat Pendidikan Barat Yang Diperoleh Seseorang.
Jika Soekarno Tampak Terpisah Dari Rakyat, Sebenarnya Ia Tidak Sendirian. Banyak Tokoh Elite Perjuangan Pada Zamannya Juga Demikian. Ketika Membubarkan PNI Pada Tanggal 25 April 1931, Misalnya, Para Pemimpin Partai Itu Tidak Banyak Berkonsultasi Dengan Rakyat Kebanyakan Yang Menjadi Anggotanya. Akibatnya Rakyat Menjadi Kecewa, Membentuk Apa Yang Disebut “Golongan Merdeka,” Dan Memperjuangkan Pentingnya Pendidikan Rakyat.
Bahkan Pada Masa Revolusi Sendiri Bisa Dipertanyakan Apakah Sebenarnya Rakyat Yang Ikut Gigih Bertempur Dan Berkorban Mempertahankan Kemerdekaan Itu Mendapat Kesempatan Yang Maksimal Dalam Menentukan Arah Revolusi. Dalam Tulisannya Mengenai Pola Hubungan Antara Elite Dan Rakyat Pada Zaman Revolusi, Barbara Harvey Menyatakan Bahwa Hubungan Itu Tidak Hanya Amat Lemah, Tetapi Juga Berakibat Cukup Fatal Bagi Revolusi Kemerdekaan Itu Sendiri. Lemahnya Hubungan Antara Para Pemimpin Nasional Di Tingkat Pusat Dengan Rakyat Di Desa-Desa, Menurut Dia, “Merupakan Faktor Utama Bagi Gagalnya Elite Kepemimpinan Untuk Menggalang Dan Mengarahkan Kekuatan Rakyat Demi Terwujudnya Tujuan-Tujuan Revolusi.”
Dengan Kata Lain, Sebenarnya Rakyat Tidak Sepenuhnya Dilibatkan Dalam Proses Bernegara. Jika Ini Benar, Mungkin Tak Terlalu Mengherankan Jika PKI-Meskipun Pada Tahun 1948 Ditekan Besar-Besaran Setelah Peristiwa Madiun-Dalam Waktu Singkat Berkembang Pesat Pengikutnya. Ini Antara Lain Karena Di Dalam PKI Banyak Rakyat Merasakan Bahwa Justru Dalam Partai Yang Menekankan Antikemapanan (Baca: Anti-Elite Metropolitan) Itu Kepentingan Dan Cita-Cita Mereka Mendapat Tempatnya. Dalam Pemilu 1955 PKI Bahkan Berhasil Memperoleh Suara Terbanyak Keempat.
Dengan Sedikit Meminjam Seruan Bung Karno Yang Terkenal, Sekarang Ini Kita Perlu “Membangun Dunia Baru.” Tetapi Upaya Untuk Membangun Dunia Yang Baru Itu Kiranya Harus Dimulai Dengan Terlebih Dahulu “Membangun Indonesia Baru.” Dan Upaya Membangun Indonesia Baru Itu Mungkin Harus Dimulai Dengan Membangun Elite Politik Yang Benar-Benar Lahir Dari Kalangan Rakyat Dan Memperjuangkan Kepentingan Rakyat. Dalam Indonesia Yang Baru Itu Diharapkan Tiada Lagi-Kalaupun Ada Kecil Peranannya-Kelompok Elite Yang Hanya Sibuk Berebut Kekuasaan Dan Pengaruh.
Hal Ini Bisa Terjadi Jika Para Aktivis Muda Reformasi Sekarang Ini Tidak Enggan Untuk Belajar Dari Para Aktivis Pergerakan Generasi Tahun 1920-An. Di Satu Pihak Meneruskan Sikap Militan Generasi Itu Dalam Memperjuangkan Cita-Cita Bersama Dan Rela Berkurban Demi Cita-Cita Itu. Di Lain Pihak Menolak Kecenderungan Untuk Mewarisi Sistem Pemerintahan Sebelumnya, Yakni Kecenderungan Untuk Mengganti Elite Lama Dengan Elite Yang Baru Tetapi Yang Pola Dan Orientasi Politiknya Tetap Sama. Dengan Demikian Akan Bisa Diharapkan Lahirnya Elite Politik Yang Benar-Benar Berorientasi Pada Semakin Terwujudnya Demokrasi.
Pemikiran Tentang Nasionalisme, Islamisme, dan Marxis
Menurut Bung Karno, Islam, Marxis, dan semangat Nasionalis adalah roh perjuangan yang luar biasa. Bung Karno melihat ketiga hal tersebut ada di Indonesia dan mengkristal menjadi ideologi perjuangan melawan penjajah di mana pun. Maka, Bung Karno sangat menyayangkan perselisihan di antara ketiga golongan tersebut dan  menekankan perlunya kerja sama yang erat bagi ketiga golongan tersebut agar cita-cita kemerdekaan dapat diraih. Pada tulisannya yang berjudul Nasionalisme, Islamisme, dan  Marxisme, Bung  Karno  tampak  ingin  menjadi  penengah  juga pemersatu diantara ketiga golongan. Dari uraian-uraiannya Bung Karno berusaha menguraikan benang kusut yang ada di antara ketiga –isme dan meyakinkan kepada semua pihak  bahwa hanya dengan persatuan ketiga golongan  kaum kolonialis- imperialis di Indonesia bisa diusir.
Di berbagai kesempatan orasinya Bung Karno selalu menampilkan dirinya yang  nasionalis,  sekaligus  muslim,  dan  juga  seorang  kiri.  Ia  selalu  berusaha mengajak  bahwa  semua  golongan  adalah  bagian  dari  Indonesia  dan  harus bergotong-royong membangun negeri. Bung Karno mengajak semua pihak yang ada di tanah air ini, apapun warnanya, muara perjuangan harus untuk kepentingan seluruh bangsa dan negara Indonesia. Konsep penyatuan Nasionalis, Islamis, dan Marxis adalah sebuah eksperimen yang luar biasa dari Bung Karno untuk Indonesia, tetapi memang itulah yang diinginkan Bung Karno untuk Indonesia. Dalam perjalanannya konsep Nasionalis, Islamisme, dan Marxisme Bung Karno berubah menjadi  Nasakom;  Nasionalis,  Agama,  dan  Komunis.  Bung  Karno  memperluas konsep Islamisme menjadi Agama, yang harapanya semua agama bisa terwakili dalam konsep persatuannya tersebut. Bung Karno benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan ke-Bhineka-an tiga golongan ini menjadi Tunggal Ika, dalam balutan Ibu pertiwi walau sebenarnya Bung Karno sadar benar golongan- golongan ini rentan sekali bertikai karena perbedaan paham yang sangat lebar. Sekali lagi hal ini tampak sejak tulisannya yang berjudul Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme diterbitkan, Bung Karno berkata, ”Bukannya kita mengharap yang nasionalis itu supaya berubah paham menjadi Islamis atau Marxis, bukannya maksud kita menyuruh Marxis dan Islamis berbalik menjadi Nasionalis, akan tetapi impian kita ialah kerukunan, persatuan antara tiga golongan tersebut.”[4]
      Nasionalisme

Dalam Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme Bung Karno menyampaikan kepada para nasionalis untuk bekerja sama dengan golongan Islam dan Marxis. Di situ Bung Karno mengatakan, ”Nasionalis yang sejati, yang cintanya pada tanah air itu bersendi pada pengetahuan, atas susunan ekonomi-dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbul  dari  kesombongan bangsa  belaka –  nasionalis  yang bukan chauvinis, .. , harus menolak segala paham pengecualian yang sempit budi itu.” Bung Karno melanjutkan dalam tulisannya, mengajak agar kaum nasionalis bekerjasama dengan pihak Islam, ”Adakah keberatan untuk kaum nasionalis yang sejati  buat  bekerja  bersama-sama  dengan  kaum  Islam,  oleh  karena  Islam  itu melebihi kebangsaan dan melebihi batas-negeri ialah super-nasional super-teritorial? Adalah internasionaliteit Islam suatu rintangan buat geraknya nasionalisme, buat geraknya kebangsaan?” Bung Karno mengingatkan kepada para nasionalis bahwa di berbagai  negara  Asia  para  pejuang  penentang  penjajahan  adalah  kelompok-
kelompok  Islam  yang  sama  asalnya  yaitu  berjuang  melawan  kapitalisme  dan imeperialisme barat,  sehingga Bung  Karno  menegaskan bahwa  kelompok Islam adalah bukan lawan tetapi kawan.[5]
Bung Karno mengajak kaum Nasionalis untuk mau bekerja sama dengan kaum Marxis, Bung Karno menyampaikan keteladanan dari Dr. Sun Yat Sen. ”... umpamanya almarhum Dr. Sun Yat Sen, panglima nasionalis yang besar itu, yang dengan segala kesenangan hati bekerja bersama-sama dengan kaum Marxis walaupun  beliau  itu  yakin,  bahwa  peraturan  Marxis  pada  saat  itu  belum  bisa diadakan di negeri Tiongkok ...”[6]
     Islamisme
Masih dalam tulisan yang sama Bung Karno mengatakan, ”Bukankah, sebagai yang  sudah  kita  terangkan,  Islam  yang  sejati  mewajibkan  pada  pemeluknya mencintai dan bekerja untuk negeri yang ia diami, mencintai dan bekerja untuk rakyat dianatara mana ia hidup, selama negeri dan rakyat itu masuk Darul-Islam.” Bung Karno menegaskan kembali, ”...dimana-mana orang Islam bertempat disitulah ia harus mencintai dan bekerja untuk keperluan negeri itu dan rakyatnya.”[7]
Bung Karno mengatakan bahwa dalam Islam juga terkandung tabiat-tabiatyang sosialistis maka dari itu seyogyanyalah kaum Islam harusnya mampu bekerja sama dengan kelompok Marxis, meski sosialisme dalam Islam memiliki asas yang berbeda yaitu spiritualisme sedangkan sosialisme dalam Marxis berdasar pada asas perbendaan, atau materialisme. Bung Karno juga mengingatkan, ”Kaum Islamis tidak boleh lupa, bahwa kapitalisme, musuh Marxisme itu ialah musuh Islamisme pula! Sebab meerwaarde sepanjang paham Marxisme, dalam hakikatnya tidak lainlah dari pada riba sepanjang paham Islam. Meerwaarde ialah teori: memakan pekerjaan lain orang, tidak memberikan bagian keuntungan yang seharusnya menjadi bagian kaum buruh  yang  bekerja mengeluarkan untung  tersebut ...  Untuk  Islamis sejati  tak layaklah jika  memusuhi paham Marxisme yang melawan peraturan meerwaarde tersebut, sebab Islam yang sejati juga memerangi peraturan itu, bahwa Islam yang sejati  melarang  keras  akan  perbuatan  memakan  riba  ...  bahwa  riba  ini  pada hakikatnya tiada lain daripada meerwaarde-nya paham Marxisme itu.”[8]
      Marxisme
Bung Karno dalam Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme menyinggung pada kaum Marxis yang ingkar terhadap perjuangan kaum nasionalis dan kaum Islamis, Bung Karno mengajak Marxis Indonesia untuk bergabung dengan kedua golongan yang lain, ”Sebab taktik Marxisme yang baru, tidaklah menolak pekerjaan bersama-sama dengan Nasionalis dan Islamis di Asia. Taktik Marxisme yang baru bahkan menyokong pergerakan-pergerakan Nasionalis dan Islamis yang sungguh- sungguh. Marxis yang masih saja bermusuhan dengan pergerakan-pergerakan Nasionalis dan Islamis yang keras di Asia, Marxis yang demikian itu tak mengikuti aliran zaman, dan tak mengerti akan taktik Marxisme yang sudah berubah.”[9]
Bung Karno juga mengajak pada kaum Marxis untuk tidak membenci kaum agama (Islam) di Indoenesia karena kaum gereja di Eropa berbeda dengan kaum agama (Islam) di Indonesia. Beliau menjelaskan, ”Disini agama Islam adalah agama kaum yang tak merdeka, disini agama Islam adalah adalah agama kaum yang ”di bawah” ... Tidak boleh tidak, suatu agama yang anti kapitalis, agama kaum yang tak merdeka, agama kaum yang ”di bawah” ini, agama yang menyuruh mencari kebebasan, agama yang melarang menjadi kaum bawahan, dan pastilah menimbulkan suatu perjuangan yang dalam beberapa bagian sesuai dengan kaum Marxisme itu.”[10]
Bung Karno sangat meminta agar kaum Marxis berjuang bersama Kaum Nasionalis dan Islamis, ”Tetapi Marxis yang ingkar akan persatuan, Marxis yang kolot teori dan kuno taktiknya, Marxis yang memusuhi pergerakan kita, Nasionalis dan Islamis yang sungguh-sunguh, - Marxis yang demikian itu janganlah merasa terlanggar kehormatannya jikalau dinamakan racun rakyat adanya!”[11]
Dari pemikiran Bung Karno tersebut di atas yang dituliskannya ketika beliau    
berumur    25    tahun     sangat    terang     bahwa    dirinya    hanyalah menginginkan kemerdekaan Bangsa Indonesia melalu perjuangan seluruh rakyat Indonesia walaupun rakyat berbeda-beda golongannya. Bung Karno benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan pada ketiga golongan bahwa tidak ada alasan yang kuat untuk masing-masing golongan berjalan sendiri-sendiri terlebih saling mengejek dan  menjatuhkan. Dari  tulisan Bung Karno tersebut tampak apa  yang menjadi kegelisahan dirinya yaitu perpecahan antar anak bangsa karena perbedaan ideologi walau sebenarnya Bung Karno melihat bahwa semua anak bangsa yang berbeda ideologi tersebut menginnginkan hal yang sama yaitu bebasnya Indoenesia dari cengkeraman penjajah.
Bung Karno yang seorang Nasionalis sering berkata bahwa Bangsa Indonesia harus memiliki rasa cinta tanah air yang berkobar-kobar, tetapi tidak boleh memiliki rasa nasionalisme yang chauvinistis, nasionalisme yang diajarkan Bung Karno adalah nasionalisme yang merasa dirinya satu bagian dari seluruh peri kemanusiaan, yang kemudian sering disebut oleh Bung Karno sebagai sosio-nasionalisme. Pandangan nasionalisme Bung Karno inilah yang membuat dirinya dan mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mau menerima semua golongan manusia yang ada di bumi Indonesia, yaitu golongan nasionalis, islamis, dan marxis.

PENUTUP
Kesimpulan
Ir. Soekarno (Lahir Di Blitar Pada 6 Juni 1901- Meninggal Pada Tanggal 21 Juni 1970 Di Kota Blitar,  Jawa Timur). Ayahnya Raden Sukemi Sosrohadihardjo, Adalah Seorang Priyayi Rendahan Yang Bekerja Sebagai Guru Sekolah Dasar. Ibunya Nyoman Rai Berdarah Biru Dari Bali Dan Beragama Hindu. Pertemuan Mereka Terjadi Ketika Raden Sukemi, Yang Sehabis Menyelesaikan Studi Di Sekolah Pendidikan Guru Pertama Di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Ditempatkan Di Sekolah Dasar Pribumi Di Singaraja, Bali.

Soekarno Menentang Kolonialisme Dan Kapitalisme Itu. Keduanya Melahirkan Struktur Masyarakat Yang Eksploitatif. Sebagai Suatu Sistem Yang Eksploitatif, Kapitalisme Itu Mendorong Imperialisme, Baik Imperialisme Politik Maupun Imperialisme Ekonomi. Tetapi Soekarno Tak Ingin Menyamakan Begitu Saja Imperialisme Dengan Pemerintah Kolonial. Imperialisme.

Menurut Soekarno, Yang Pertama-Tama Perlu Disadari Adalah Bahwa Alasan Utama Kenapa Para Kolonialis Eropa Datang Ke Asia Bukanlah Untuk Menjalankan Suatu Kewajiban Luhur Tertentu. Mereka Datang Terutama “Untuk Mengisi Perutnya Yang Keroncong Belaka.” Artinya, Motivasi Pokok Dari Kolonialisme Itu Adalah Ekonomi.Sebagai Sistem Yang Motivasi Utamanya Adalah Ekonomi.

Langkah Lain Yang Menurut Soekarno Perlu Segera Diambil Dalam Menentang Kolonialisme Dan Imperialisme Itu Adalah Menggalang Persatuan Di Antara Para Aktivis Pergerakan.

Dengan Pendirian Partai Nasional Indonesia (PNI) Yang Sebagai Tujuan Utamanya Dicanangkan Untuk “Mencapai Kemerdekaan Indonesia.” Guna Memberi Semangat Kepada Para Aktivis Pergerakan, Pada Tahun 1928 Ia Menulis Artikel Berjudul Jerit Kegemparan Di Mana Ia Menunjukkan Bahwa Sekarang Ini Pemerintah Kolonial Mulai Waswas Dengan Semakin Kuatnya Pergerakan Nasional Yang Mengancam Kekuasaannya.

DAFTAR PUSTAKA
Hering Bob, Soekarno Architect Of A Nation, Kit Publisher, Amsterdam, 2001
Soekarno Founding Father Of Indonesia 1901-1945, Kit Publisher, Amsterdam, 2001
Katoppo, Aristides, 80 Tahun Bung Karno, Kintamani Offset, Jakarta, 1982
Kasenda, Peter, Soekarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933, Komunitas Bambu, Jakarta, 2010

Sumber :


0 komentar: