Curhat Terakhir

bacaan untuk orang yang sakit hati


Kesempatan itu hanya datang sekali. Tanpa sadar aku telah melewatkan banyak kesempatan emas untuk bisa semakin dekat dengannya. Tapi aku juga tak boleh terlalu menyesalinya, Daripada hanya bisa memandangnya dari jauh tanpa berbuat apa-apa. Lebih baik, Aku akan coba beranikan diri untuk maju walau selangkah. Iya, Beginilah caraku bercerita untuk mengungkapkan sebuah kebenarannya.
Malam ini aku mendengarkan suara nyanyiannya di handphoneku sekali lagi, Tak pernah bisa kurasakan hatinya lagi dihatiku seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya di dunia maya.
Kadang kala aku pernah berfikir dia ada di sebelahku sedang duduk bersama sambil menyanyikan sebuah lagu favoritnya, Meskipun aku tahu suaranya itu tidak begitu merdu di telingaku tapi aku juga paham betul bahwa nyanyiannya diteleponku itu adalah sebuah nyanyian daripada isi hatinya yang sedang pilu.
Malam itu jauh dari malam yang tak pernah kubayangkan sebelumnya ketika sebuah sosok yang ku puja selama ini dan yang bisa membuatku bertahan pada kenyataan pahit bisa berubah menjadi boomerang setelah ku lempar hatiku kepadanya tapi yang kembali bukannya hatinya melainkan sebuah jawaban yang entah itu wujudnya palsu atau asli, Dan jawabannya itu sangat menyakitkan sekali yang cukup mampu membunuh perasaanku sendiri.
Sebelumnya, Kita pernah berjanji akan bertemu suatu saat kelak dan mencoba bernyanyi bersama. Bukan dari sebuah speaker handphone lagi atau tempat lain di alam maya namun dari sebuah kenyataan yang sama-sama kami coba untuk bangkit melawan deritanya.
Pernah 3 hari tanpa kabar, Dia tidak menelponku. Ku coba untuk menelponnya, Sayangnya Ia tak mengangkatnya, Ketika kucoba untuk mengirimkan pesan singkat namun ia tidak membalasnya. Padahal aku sangat mengkhawatirkan dengan keadaannya.
Setelah itu ketika malam tiba yang entah ada angin apa? Ia menelponku hanya untuk mengabariku bahwa ia sedang sibuk bersama seseorang yang ia sayangi, dan kejujurannya itulah yang membuat rasa sakitku bertambah genap, Namun untuk yang kedua kalinya aku berbohong pada hatiku sendiri bahwa aku selalu ada dan selalu siap mengangkat telpon darinya, tak perduli aku sibuk maupun sedang tertidur lelap hanya untuk memastikan kalau dia bahagia bersama calon pasangannya.
Berulangkali ia curhat ditelponku mengenai pasangannya tapi ia tak tahu bagaimana perasaanku ketika mendengarnya. Sakit.. sakit sekali..!!? bagai mencintai sesuatu yang tak bisa dimiliki.
Mencoba sabar tak bisa, mengalah pun tak mampu karena rasa cemburu terlanjur menguasai, Apakah ini karma atau semacam balasan setelah aku menyakiti seseorang pada kejadian masa lalu.
Sempat ia marah padaku dengan mengirimkan pesan di layar handphone yang aku punya dan berulang-ulang aku baca isi pesan singkatnya :
“Kita pernah dilukai,
dan mungkin pernah melukai,
tapi karena itu kita belajar,
tentang bagaimana caranya menghargai,
menerima, berkorban dan memperhatikan.“

“Kita juga pernah dibohongi,
dan mungkin pernah membohongi,
tapi dari itu kita belajar tentang kejujuran.“

“Andaikan kita tidak pernah melakukan kesalahan,
mungkin kita tidak pernah belajar,
arti dari meminta maaf dan memberi maaf.“

“Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini,
tidak akan terulang kembali. Namun ada satu hal,
yang masih tetap bisa kita lakukan,
Yaitu belajar dari masa lalu,
untuk hari esok yang lebih baik.“

Hidup adalah proses,
Hidup adalah belajar,
Tanpa ada batas umur,
Tanpa ada kata tua,

JATUH, berdiri lagi,
KALAH, mencoba lagi,
GAGAL, bangkit lagi,
Sampai Tuhan memanggil kita,
“Waktunya PULANG.“

Setelah mengirimkan pesan itu dia menghilang dan aku tak tahu lagi dengan aktifitasnya sehari-hari, Karena aku juga tahu betul bahwa aku mencoba menelponnya pun percuma apalagi mengirimkan pesan singkat yang sudah pasti ia tak akan mau membacanya.
Andai dia tahu, Sebelum aku kembali ke dunia nyataku. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah mengisi hari-hariku selama ini tapi sebelum itu aku ingin bertanya kepadanya dan aku juga mengerti kalau pertanyaanku ini tak akan pernah bisa dijawabnya,
Apakah dia pernah berfikir sekali saja ?
Bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang ia sayangi.
“SEDIH, KAAAN..!!?“
Lalu apakah dia nanti juga akan ngerasain hal yang sama, Jika yang hilang itu adalah aku.

Mungkin dia gak akan ngerti aku...!?
Berulangkali aku mencoba bertahan hanya padanya, tapi dia selalu mencari-cari kesalahanku agar kita bisa mengakhiri ini semua.

Semenjak itu hidupku terasa sangat aneh dan membingungkan. Aku tak bisa merasakan arti dari hidupku sendiri. Padahal sudah banyak hal yang aku lakukan tapi aku tak tahu untuk apa dan mengapa?
Kini aku terdiam membisu hanya untuk menantikan suaranya seperti yang dahulu pertama kali menelponku, suara ceria, suara canda, suara tawa, suara tangis dan suara perhatian yang selalu didambakan oleh kaum pria, Namun hal itu tak kunjung tiba juga.
Akhirnya aku maju selangkah untuk berhenti memutuskan ikatan ini walaupun hal itu aku harus membohongi hati kecilku sendiri dengan berjalan ke tempat aku beribadah untuk menelpon tuhan, Berharap telponku diangkat-NYA bahwa saat ini aku sedang pasrah dan menyerahkan semua kepada-NYA.
Ada atau tidak adanya lagi dia disisiku, Suatu hari nanti aku yakin pasti tuhan menjawab teleponku dan mengirimkan seseorang sekali lagi yang ikhlas bernyanyi di handphoneku dan bernyanyi di dunia nyataku, karena sosok yang aku tunggu itu sebenarnya adalah sosok yang mencintaiku apa adanya

0 komentar: